Screening Saham ala Salim

https://production-kontak-dot-link.s3.ap-southeast-1.amazonaws.com/kontaklink-pro/38CArr6skXdfNen8IOHojkEpAxT/attachment/202601/16-cdfdz.png


Sebagai seorang thought partner di bidang investasi, saya telah menyusun panduan komprehensif yang mengintegrasikan berbagai disiplin analisis untuk pasar modal Indonesia (IDX) dan Amerika Serikat (US).

1. Top-Down Analysis: Menentukan Medan Perang

Sebelum memilih saham, Anda harus memahami arah "angin" ekonomi.


  • Makro Ekonomi: Pantau suku bunga ($Fed Rate$ / $BI Rate$), inflasi, dan PDB. Di US, data ketenagakerjaan ($Non-Farm Payroll$) sangat krusial.

  • Sektoral: Pilih sektor yang diuntungkan oleh siklus ekonomi.

    • Fase Pemulihan: Finansial, Properti.

    • Fase Ekspansi: Teknologi, Industri.

    • Fase Resesi:Consumer Staples, Kesehatan, Utilitas.


2. Fundamental & Matriks Spesifik Sektor

Analisis fundamental memastikan Anda membeli bisnis yang sehat. Gunakan matriks berbeda sesuai karakteristik bisnisnya:

SektorMatriks Utama (Indonesia - IDX)Matriks Utama (US - Wall Street)
PerbankanNIM, NPL, LDR, PBVEfficiency Ratio, CET1, ROE
TeknologiGMV, GTV, Burn Rate, Path to ProfitRule of 40, ARPU, Forward P/E
KomoditasAll-in Sustaining Cost (AISC), Harga AcuanEV/EBITDA, Free Cash Flow Yield
ConsumerGPM, OPM, Pangsa PasarDividend Aristocrats, Inventory Turnover

3. Bandarmologi (Market Microstructure)

Bandarmologi adalah seni melacak jejak "Smart Money" (Institusi, Asing, atau Market Maker).

  • IDX: Fokus pada Broker Summary. Cari akumulasi di mana volume beli besar terpusat pada segelintir broker. Perhatikan juga arus dana asing (Foreign Flow).

  • US: Fokus pada Institutional Ownership (Form 13F) dan Insider Trading. Karena tidak ada broker summary real-time, pantau volume transaksi di harga-harga kunci untuk melihat area "Absorption".


4. Teknikal: Screening & Eksekusi

Gunakan teknikal untuk menjawab pertanyaan: "Kapan harus beli?"

Screening Setup

  1. Trend: Harga di atas MA 50 dan MA 200 (Stage 2 Uptrend).

  2. Momentum: RSI tidak overbought (>30 tapi <70).

  3. Volatility: Bollinger Bands menyempit (squeeze) menandakan ledakan harga segera terjadi.

Aksi Entry & Exit

  • Entry:Buy on Breakout (menembus resistance dengan volume besar) atau Buy on Weakness (pantulan di area support kuat).

  • Exit (Profit): Target harga berdasarkan Fibonacci 1.618 atau saat muncul pola pembalikan seperti Double Top.

  • Exit (Cut Loss): Wajib keluar jika harga menembus di bawah MA 50 atau turun >5-7% dari harga beli.


5. Red Flags: Tanda Bahaya

Segera hindari emiten jika menemukan hal berikut:

  • Finansial: Piutang tumbuh jauh lebih cepat dari pendapatan (indikasi manipulasi penjualan).

  • Manajemen: Pergantian direksi/auditor yang mendadak dan berulang tanpa alasan jelas.

  • Struktur: Beban utang berbunga tinggi dibanding ekuitas ($DER > 2x$ di sektor non-bank).

  • Gimmick: Perusahaan sering ganti nama atau bidang usaha (pivot) hanya mengikuti tren pasar tanpa fundamental kuat.


6. Manajemen Waktu & Risiko

Trading bukan tentang seberapa sering Anda benar, tapi seberapa banyak yang Anda bawa pulang saat benar.

Manajemen Risiko

  • The 1% Rule: Jangan pernah mengambil risiko kehilangan lebih dari 1% total modal dalam satu transaksi.

    • Contoh: Modal Rp100jt, maka maksimal rugi per trade adalah Rp1jt. Jika jarak stop loss adalah 5%, maka besarnya posisi (sizing) adalah Rp20jt.

  • Risk/Reward Ratio: Minimal 1:2. Jika potensi rugi Rp1jt, potensi untung harus minimal Rp2jt.

Manajemen Waktu

  • Waktu Kerja: Gunakan 1 jam sebelum pasar buka untuk screening dan 30 menit setelah tutup untuk evaluasi Jurnal Trading.

  • Waktu Pantau: Gunakan Price Alert. Jangan menatap layar sepanjang hari kecuali Anda adalah scalper profesional; ini hanya akan memicu pengambilan keputusan emosional.