Screening Saham ala Salim

Sebagai seorang thought partner di bidang investasi, saya telah menyusun panduan komprehensif yang mengintegrasikan berbagai disiplin analisis untuk pasar modal Indonesia (IDX) dan Amerika Serikat (US).
1. Top-Down Analysis: Menentukan Medan Perang
Sebelum memilih saham, Anda harus memahami arah "angin" ekonomi.
Makro Ekonomi: Pantau suku bunga ($Fed Rate$ / $BI Rate$), inflasi, dan PDB. Di US, data ketenagakerjaan ($Non-Farm Payroll$) sangat krusial.
Sektoral: Pilih sektor yang diuntungkan oleh siklus ekonomi.
Fase Pemulihan: Finansial, Properti.
Fase Ekspansi: Teknologi, Industri.
Fase Resesi:Consumer Staples, Kesehatan, Utilitas.
2. Fundamental & Matriks Spesifik Sektor
Analisis fundamental memastikan Anda membeli bisnis yang sehat. Gunakan matriks berbeda sesuai karakteristik bisnisnya:
| Sektor | Matriks Utama (Indonesia - IDX) | Matriks Utama (US - Wall Street) |
| Perbankan | NIM, NPL, LDR, PBV | Efficiency Ratio, CET1, ROE |
| Teknologi | GMV, GTV, Burn Rate, Path to Profit | Rule of 40, ARPU, Forward P/E |
| Komoditas | All-in Sustaining Cost (AISC), Harga Acuan | EV/EBITDA, Free Cash Flow Yield |
| Consumer | GPM, OPM, Pangsa Pasar | Dividend Aristocrats, Inventory Turnover |
3. Bandarmologi (Market Microstructure)
Bandarmologi adalah seni melacak jejak "Smart Money" (Institusi, Asing, atau Market Maker).
IDX: Fokus pada Broker Summary. Cari akumulasi di mana volume beli besar terpusat pada segelintir broker. Perhatikan juga arus dana asing (Foreign Flow).
US: Fokus pada Institutional Ownership (Form 13F) dan Insider Trading. Karena tidak ada broker summary real-time, pantau volume transaksi di harga-harga kunci untuk melihat area "Absorption".
4. Teknikal: Screening & Eksekusi
Gunakan teknikal untuk menjawab pertanyaan: "Kapan harus beli?"
Screening Setup
Trend: Harga di atas MA 50 dan MA 200 (Stage 2 Uptrend).
Momentum: RSI tidak overbought (>30 tapi <70).
Volatility: Bollinger Bands menyempit (squeeze) menandakan ledakan harga segera terjadi.
Aksi Entry & Exit
Entry:Buy on Breakout (menembus resistance dengan volume besar) atau Buy on Weakness (pantulan di area support kuat).
Exit (Profit): Target harga berdasarkan Fibonacci 1.618 atau saat muncul pola pembalikan seperti Double Top.
Exit (Cut Loss): Wajib keluar jika harga menembus di bawah MA 50 atau turun >5-7% dari harga beli.
5. Red Flags: Tanda Bahaya
Segera hindari emiten jika menemukan hal berikut:
Finansial: Piutang tumbuh jauh lebih cepat dari pendapatan (indikasi manipulasi penjualan).
Manajemen: Pergantian direksi/auditor yang mendadak dan berulang tanpa alasan jelas.
Struktur: Beban utang berbunga tinggi dibanding ekuitas ($DER > 2x$ di sektor non-bank).
Gimmick: Perusahaan sering ganti nama atau bidang usaha (pivot) hanya mengikuti tren pasar tanpa fundamental kuat.
6. Manajemen Waktu & Risiko
Trading bukan tentang seberapa sering Anda benar, tapi seberapa banyak yang Anda bawa pulang saat benar.
Manajemen Risiko
The 1% Rule: Jangan pernah mengambil risiko kehilangan lebih dari 1% total modal dalam satu transaksi.
Contoh: Modal Rp100jt, maka maksimal rugi per trade adalah Rp1jt. Jika jarak stop loss adalah 5%, maka besarnya posisi (sizing) adalah Rp20jt.
Risk/Reward Ratio: Minimal 1:2. Jika potensi rugi Rp1jt, potensi untung harus minimal Rp2jt.
Manajemen Waktu
Waktu Kerja: Gunakan 1 jam sebelum pasar buka untuk screening dan 30 menit setelah tutup untuk evaluasi Jurnal Trading.
Waktu Pantau: Gunakan Price Alert. Jangan menatap layar sepanjang hari kecuali Anda adalah scalper profesional; ini hanya akan memicu pengambilan keputusan emosional.
